Saya ingin membagi sebuah
cerita, sebuah legenda yang amat mempesona yang memiliki sebuh pesan sederhana.
Jangan pernah mengulangi kesalahan yang dilakukan Fram, si petani miskin.
Dua ratus tahun silam di
sebuah kota indah, legenda pun dimulai.
Alkisah Fram amat beruntung mendapatkan istri yang sempurna. Kembang kota. Diantara puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih Fram, pemuda miskin yang tinggal di dekat Danau Kota. Meninggalkan janji kehidupan yang lebih baik yang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga, gadis itu dihari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, "Aku akan menjemput janji cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu bukan?"
Alkisah Fram amat beruntung mendapatkan istri yang sempurna. Kembang kota. Diantara puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih Fram, pemuda miskin yang tinggal di dekat Danau Kota. Meninggalkan janji kehidupan yang lebih baik yang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga, gadis itu dihari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, "Aku akan menjemput janji cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu bukan?"
Fram mencintai istrinya. Dan
jangan ditanya apakah istrinya mencintai Fram. masalahnya, apakah cinta itu?
Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata
akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi?
titik? penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal
sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, "Ia
adalah cinta sejatiku!"

